Ketika Cinta dikalahkan Syar’i

Posted: 2 October 2010 in Uncategorized

*sumber: blog tetangga… *

Dikisahkan dalam suatu waktu terdapatlah sepasang kekasih yang menjalin hubungan cinta serius dalam tahapan menuju jenjang pernikahan. Salah satu komitmen yang disepakati bersama sepasang kekasih tersebut yaitu menabung secara bersama sebagai salah satu langkah tahapan dari sekian rangkaian menuju pernikahan. Hari demi hari berlalu hingga berganti tahun. Hubungan diantaranya keduanya cukup harmonis dan baik. Namun, intens pertemuan diantaranya keduanya sangatlah jarang dan juga hubungan yang dijalin pun cukup berbeda pada umumnya dalam konteks sebuah pacaran. Hal ini mengingat sang ikhwan yang juga merupakan salah seorang aktivis sebuah kegiatan di masjid. Menganggap hubungan yang dijalin bukanlah konteks sebuah pacaran melainkan tahapan menuju jenjang pernikahan. Sehingga batasan demi batasan pun diterapkan. Bahasa Komunikasi serta komitmenlah yang sesungguhnya menjadi langgengnya hubungan diantara keduanya sembari menunggu waktu yang ditentukan. Namun, kenyataan berbicara lain. Jikalau Alloh belum menghendaki sepasang kekasih tersebut berjodoh. Walau apapun dipersatukan, tanpa seizin Alloh tidak akan pernah terwujud.

Hingga pada suatu hari, keraguan dalam hati seorang Ikhwan pun muncul akan hubungan yang dijalinnya dan telah disepakati dalam tautan komitmen bersama.

Keraguan yang muncul tersebut dikarenakan sang Ikhwan yang juga aktivis sebuah masjid menganggap hubungan yang dijalin sekian lama ini tidak sesuai konteks syar’i sebagai tuntunan ajaran Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang biasa dilakukan. Mengingat begitu banyaknya kajian yang dikonsumsi oleh sang ikhwan tersebut selama aktif di lingkungan keagamaan, Hingga menyebabkan keraguan di hati pada Ikhwan tersebut tak bisa dihindari. Salah satu keraguan akan hubungan tersebut beliau menjalankan hubungan komunikasi melalui Handphone, beliau juga pernah bertemu empat mata bersama sang kekasih di depan khalayak umum dan beberapa hal yang disadari oleh sang Ikhwan tersebut sebagai suatu hal yang kurang syar’i. Walau pada kenyataannya tidak terjadi unsur-unsur umum pada konteks pacaran era remaja saat ini. Namun, tetap saja tidak mudah memang mengubah keraguan yang semula hanyalah berupa sinyal akan ketidaktepatan proses hubungan dengan disertai batas waktu untuk melangkah ke tahap selanjutnya dalam menjalin komitmen yang telah disepakati secara bersama hingga menjadi tidak jelas sasaran tersebut untuk diwujudkan dalam sebuah sikap dan kenyataan.

Hal ini dikarenakan batin sang Ikhwan tersebut kian bergejolak dikarenakan komitmen yang disepakati telah dirangkai dalam wujud sebuah tabungan bersama menuju waktu yang telah ditentukan. serta timbulnya kekhawatiran dari diri sang Ikhwan seolah takut menyakiti diliputi rasa iba akan sifat seorang wanita yang amat begitu sensitif ketimbang Ikhwan jikalau mendengar perubahan sikap dari sang Ikhwan tersebut yang mana sudah disepakati bersama-sama. Selain itu faktor orang tua jualah yang telah mengetahui akan hubungan yang telah terjalin tersebut menjadikan sang Ikhwan tersebut kian urung meniatkan merubah haluannya untuk memutuskan komitmen yang telah disepakati.

Tahun pun berganti. Sang Ikhwan tersebut tetap sibuk dan asyik menjalankan aktifitasnya begitu pun juga dan sang wanita tersebut. Hari, minggu dan bulan terus berganti. Terbersit rasa keragu-raguan dalam melanjutkan komitmen yang telah disepakati secara bersama dialami oleh sang Ikhwan. Rasa tersebut kian menari-nari dari waktu ke waktu. Hal yang menghilangkannya yaitu tatkala disibukkan dengan kegiatan berbasis kemasjidan ataupun aktifitas kerjaan kantor. Hingga akhirnya hubungan yang terjalin pun kian datar. Dahulu komunikasi yang selalu menjadi andalan disertai komitmen yang disepakati. Kian hari kian luntur. Pertemuan pun menjadi sangat jarang, komunikasi kian berkurang, tinggal komitmen lah yang masih melekat disepasang kedua insan tersebut dalam melalui hari demi hari. Rasa optimis sang Wanita dalam menanti waktu yang dinanti-nantikan pun kian besar. Hal ini disikapi dengan sabar serta berprasangka baik dalam menghadapi segala rintangan yang terjadi di lingkungan baik keluarga maupun lingkungan kerja dan lainnya. Hal itulah yang menjadi hubungan ini kian bertahan. Namun, celakanya hal ini tidak disadari oleh sang wanita karena sang Ikhwan tersebut mulai kehilangan arah dalam menjalin komitmen yang disepakati bersama. Keraguan demi keraguan pun terbersit didalam hati sanubari sang Ikhwan tersebut. Mulai dari status hubungan yang sesungguhnya kurang syar’i tetap dilakukan dan rasa keyakinan yang dahulu timbul di awal menjalin komitmen bersama yang kian pudar. Terlebih sinyal godaan, candaan dan teguran pun kian menghampiri sang Ikhwan tersebut dari lingkungan sekitar.

Hingga akhirnya waktu itu pun tiba…

Sang Ikhwan yang telah berkomitmen tersebut kian serius berkonsentrasi dalam menyelesaikan pertentangan batinnya yang terus bertarung dibalik dua sisi hatinya. Yaitu mempertahankan status yang kian berjalan serta meninggalkan untuk menuju yang syar’i. Hingga tibalah memasuki Bulan suci Ramadhan. Sang Ikhwan akhirnya memanfaatkan momentum Ramadhan dikala ramadhan itu tiba. Sang Ikhwan tersebut dalam setiap ibadah yang dilakukan dan kesempatan kerapkali memanjatkan doa agar diberikan petunjuk kepada sang Ilahi akan kelanjutan hubungan yang telah dijalin selama lebih dari 1 tahun.

Ikhwan tersebut berdoa dalam salah satu dari sekian doa yang dipanjatkannya dari hari ke hari di bulan ramadhan. Salah satu doanya yaitu terucap: ”Ya Alloh hari ini aku bersimpuh duduk untuk memanjatkan doa kepada-Mu. ya Alloh berikanlah aku petunjuk atas keragu-raguanku selama ini dalam melangkah menuju ke tahap yang dinantikan. Ya Alloh jikalau memang hubungan ini direstui oleh-Mu dan memang yang terbaik untukku, ku memohon mudahkanlah aku dalam melangkah dan melanjutkan langkah ini menuju ke tahap sesuai anjuran-Mu yaitu tautan pernikahan. Namun jikalau memang ini bukan yang terbaik untukku, kumohon berikanlah aku kemudahan dalam memutuskan segala sesuatu-Nya dan berikanlah aku jodoh yang terbaik menurut-Mu ya Alloh. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Mu yang khilaf, tak sempurna dan memiliki keterbatasan. Engkaulah sang maha pembolak balik hati ini, engkau pula lah sang pemilik dan penilai hati ini. Engkau pula lah maha dari segala ilmu. Berikanlah aku petunjuk-Mu ya Alloh. Berikanlah aku ketenangan batin dalam melangkah di kehidupan ini..Amin Ya Alloh. Amin ya robbal’ alamin.

Ramadhan pun telah berakhir. Sikap keragu-raguan didalam benak hati sang Ikhwan tersebut pun masih kerapkali muncul dan menari-nari di dalam pemikiran dan hatinya. Namun, sang Ikhwan tersebut mulai yakin akan keputusannya yang diambil. Sang Ikhwan menganggap salah satu terkabulnya doa dalam Ramadhan yang telah dilaluinya yaitu mendapatkan jawaban dari doa yang dipanjatkannya akan keragu-raguan hubungan komitmen yang selama ini dijalankan oleh keduanya tersebut dan terdapatlah kumpulan sinyal sosok seorang Ukhti yang sama sekali belum pernah bersahabat dekat dengan sosok ikhwan tersebut.

Namun, hasil tersebut ternyata belum dipertaruhkan keputusannya tersebut di dalam rangkaian sholat Istikharah yang beliau lakukan.

Hingga Ramadhan usai, liburan panjang pun juga usai..dan Bulan Syawal pun memainkan durasinya. Akhirnya pertemuan dengan sang kekasih hati tersebut yang sekian lama dinanti-nantikan pun tiba. Semua berjalan mulus.

Hingga memasuki topik pembahasan review akan hubungan yang selama ini telah ditempuh hingga tahap hampir menuju 2 tahun. Berbagai koreksi, ungkapan pendapat, keluhan dan rintangan yang dihadapi oleh sang ukhti tersebut pun diutarakan ke sang Ikhwan pujaan hatinya. Ternyata, sejalan dengan apa yang dipikirkan oleh sang Ikhwan tersebut.

Hubungan yang telah terjalin selama hampir 2 tahun berjalan datar. Tak ubahnya layaknya sebuah hubungan komunikasi persahabatan antara seorang Ikhwan dan wanita pada umumnya.

Beragam masukan keluhan yang diutarakan oleh sang wanita tersebut dijadikan sebagai catatan kecil oleh sang Ikhwan dalam menentukan langkah yang harus ditempuh ke depannya..pertemuan pun usai, berlanjut ke hari demi hari yang terus berganti dan berlalu sejalan dengan aktivitas yang masing-masing kedua insan manusia tersebut lakukan pada umumnya.

Sejak pertemuan tersebut, akhirnya sang Ikhwan tersebut mulai mengambil langkah untuk mempertaruhkan sikap jawaban yang telah didapatkan selama memanjatkan doa di bulan suci Ramadhan tersebut untuk melakukan ibadah sholat disertai doa istikharah..sebelum, mengambil pertimbangan ini. Sang ikhwan kerap berdiskusi dengan ustadz maupun sahabat terdekatnya dari kedua belah pihak (Ikhwan & Ukhti). Ternyata, Setelah melakukan rangkaian sholat Istikharah beberapa puluh kali keragu-raguan yang selama itu terbersit di benak sang Ikhwan tersebut didapati sebuah keyakinan bahwa sang Ikhwan tersebut harus mengambil sikap yang cukup ekstrem dan tentu pastinya akan sangat menyakitkan bagi seorang wanita manapun yang mendengarnya. Terlebih sang kekasih pujaan hatinya tersebut. Hasil tersebut berupa Hubungan sepasang kekasih ini menuju tahap pernikahan harus dihentikan. Alloh mencabut rasa cinta dalam hati sang Ikhwan tersebut yang juga merupakan aktifis masjid dengan ditambah pula rasa keragu-raguan yang amat sangat dan begitu menggelisahkan menjadikan hal ini menjadi sebuah permasalahan yang boleh jadi rumit, dikarenakan hal ini berbeda dengan yang dirasakan oleh sang ukhti yang begitu yakin sang ikhwan adalah merupakan jodohnya.

Akhirnya, pernyataan dari sang ikhwan tersebut tiba. Tepat di hari jadi momen kebersamaan dalam tautan kasih yang telah terjalin selama tepat 2 tahun tersebut. Sang Ikhwan tersebut mengungkapkan kegundahan hatinya yang sekian lama ini telah dipendam. Hubungan ini harus berakhir sampai disini. Apapun konsekuensi logis mesti diterima oleh sang Ikhwan tersebut. Keputusannya sudah bulat.

Sang wanita terlalu baik menurut sang Ikhwan. Sang Ikhwan tidak layak mendapatkan sang wanita tersebut. Faktor pertimbangan kekhawatiran akan ketidakamanahan jikalau hubungan tersebut dilanjutkan yang menjadi salah satu pertimbangan sang Ikhwan memutuskan hubungan tersebut. Karena Rasa itu telah hilang. Benar-benar hilang, berganti rasa mencintai sesama seorang muslim lainnya yang terangkai dalam persahabatan. Lalu ditambah tidak adanya daya dan kekuatan untuk melanjutkan langkah ke tahap selanjutnya disertai kegundahan-kegundahan hati lainnya yang menjadikan keputusan ini harus diungkapkan.

Akhirnya, Sang ikhwan tersebut menyampaikan permohonan maafnya kepada keluarga sang wanita akan keputusan dari kegundahan hati yang dirasakannya tersebut. Semua keluh kesah diutarakan sang ikhwan kepada pihak pembicara (wali) dari pihak sang wanita.. Kesemua permasalahan ini diselesaikan secara baik-baik meski kejujuran amatlah menyakitkan bagi hati sang wanita..tentunya Orangtua dari pihak keluarga wanita tersebut.

Mengingat, hal ini begitu mengejutkan dan amat menyakitkan kaum hawa, sang Ikhwan tetap berkomitmen mengharapkan hubungan persaudaraan diantara keduanya janganlah terputus. Walaupun Alloh SWT telah menakdirkan kedua insan ini mungkin belum berjodoh. Diharapkan kedewasaan dan keikhlasan dari sang wanita (mantan kekasih) dapat bangkit kelak..Sang Ikhwan hanya berharap cintanya kepada sesama Makhluk agar ditukar berganti dengan cinta terhadap Alloh, begitupun juga tangisan yang sedianya dikarenakan kegagalan akan kelanjutan hubungan tersebut diharapkan oleh sang Ikhwan tersebut dapat berganti menjadi tangisan karena Alloh SWT dan merindukan ampunan dari Alloh SWT.

Insya Alloh sang Ikhwan tersebut yakin. Alloh SWT akan memberikan bonus bagi hamba-hamba-Nya yang kian mendekatkan diri dengan rabb-Nya dengan pasangan yang terbaik menurut pandangan Alloh SWT bukan terbaik menurut pandangan manusia. Insya Alloh..walaupun membutuhkan proses waktu yang tidak bisa dipastikan lamanya dan diperlukan pula menata hati kembali untuk menjadikan hati lebih bening. Hati yang sehat. Qolbun Salim..

Sang Ikhwan sedih. Karena baru mampu mengutarakan niatnya tepat di 2 tahun hari kebersamaan bersama sang gadis. Namun, tiada kata terlambat bagi Hamba-Nya yang ingin kembali dan menjalankan sesuatunya dengan syar’i.

Sang Ikhwan tersebut juga yakin akan pernyataan sabda rasul yang menyatakan bahwa :

“Barangsiapa meninggalkan sesuatu yang haram karena Alloh, maka suatu ketika dia akan memperoleh yang Haram itu dalam keadaan halal”.

Menurut sang Ikhwan tersebut, kelak Alloh akan memberikan pasangan yang lebih baik dan terbaik menurut pandangan Alloh SWT.

Alloh SWT pula akan mengangkat derajat bagi hamba-Nya yang kembali ke jalannya dengan memberikan ampunan bagi hamba-Nya yang kembali karena syar’i.

Di akhir pernyataan, sang Ikhwan hanya memohon doa kepada sang wanita yang saat ini terluka agar beliau (sang Ikhwan) dapat dimaafkan atas sikap dan kebijakan yang telah diambilnya..

Afwan..afwan..afwan saudariku (ukhti…)

Ampuni Aku Ya Alloh…ya Rabb.

Alloh mempunyai rencana yang Indah di balik setiap Peristiwa & Kejadian..Alloh jualah yang akan memberikan bonus bagi setiap Hamba-Nya yang kian mendekatkan diri kepada-Nya..

Terima Kasih ya Alloh atas nikmat &karunia yang engkau berikan selama ini hingga aku dapat kuat memutuskan segala sesuatunya dari yang syubhat&melalaikan, untuk melangkah dan menatap hidup ini menjadi lebih bening..Alhamdulillah ya Rabb. Alhamdulillah..Alhamdulillah..Alhamdulillah.

Semoga kisah ini bisa menjadi pembelajaran dan hikmah bagi para Akhi & Ukhti fillah semuanya tentang hubungan yang syar’i itu sendiri. Walau kesemuanya hal itu tetap kita kembalikan kepada Hamba-hamba makhluk Alloh SWT yang turut pula menentukan dalam memilih kenyamanan hidup baginya.

***********

Sesungguhnya hati itu memiliki racun antara lain : banyak makan,banyak memandang ,banyak bicara ,dan juga banyak bergaul. banyak tertawa juga akan mematikan (kepekaan dan kelembutan) hati. (Imam Ghazali)

Dari Abu Muhammad, Al Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, cucu Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan kesayangan beliau telah berkata : “Aku telah menghafal (sabda) dari Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Tinggalkanlah apa-apa yang meragukan kamu, bergantilah kepada apa yang tidak meragukan kamu “. (HR. Tirmidzi dan Nasa’i, berkata Tirmidzi : Ini adalah Hadits Hasan Shahih)

Seorang hamba tidak dapat mencapai derajat taqwa (muttaqin) sehingga meninggalkan apa yang tidak berdosa , semata-mata karena khawatir terjerumus dalam dosa (H.R. At-Tirmidzi, Ibnu Majah)

Dari Abu Said dan Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda, “Tiadalah seorang Muslim itu menderita kelelahan atau penyakit atau kesusahan (kerisauan hati) hingga tertusuk duri melainkan semua itu akan menjadi penebus kesalahan-kesalahannya.”(Bukhari – Muslim)

Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. (QS. Ath Thalaaq 65:2)

Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.(QS. Ath Thalaaq 65:4)

Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.(QS. Ath Thalaaq 65:5)

“Siapa yang mencintai seseorang karena ALLAH, kemudian seseorang yang dicintainya itu berkata, ‘Aku juga mencintaimu karena ALLAH’. Maka keduanya akan masuk surga. Orang yang lebih besar cintanya akan lebih tinggi derajatnya dari pada yang lainnya, ia akan digabungkan dengan orang –orang yang mencintai karena ALLAH.” (HR. Al Bazaar dengan sanad hasan dari Abdullah bin Amir).

“Cinta adalah ketika kebahagiaan orang lain lebih penting daripada kebahagiaan diri sendiri.” H Jacson Brown, Jr,

Ulurkan cintamu karena Tuhanmu dan tariklah cintamu karena Tuhanmu, anda tentu tak akan kecewa.

Jika seseorang tidak mencintai anda janganlah dia anda benci, karena mungkin akan tumbuh benih cinta kembali.

Berkata Ibnu Qayyim, “Antara cinta dan perasaan was-was terdapat perbedaan dan pertentangan yang besar sebagaimana perbedaan antara ingat dan lalai, maka cinta yang menghujam di hati akan menghilangkan keragu-raguan terhadap yang dicintainya. Dan orang yang tulus cintanya dia akan terbebas dari perasaan was-was karena hatinya tersibukkan dengan kehadiran Dzat yang dicintainya tersebut. Dan tidaklah muncul perasaan was-was kecuali terhadap orang yang lalai dan berpaling dari dzikir kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala , dan tidaklah mungkin cinta kepada Allah bersatu dengan sikap was-was. (Madarijus-Salikin 3/38)

Cinta kepada Allah akan menghilangkan perasaan was-was.

Rasulullah s.a.w bersabda : “Telah berfirman Allah Tabaraka Ta’ala. Andaikata hambaKu mengingatiKU dalam dirinya, niscaya Aku akan mengingatinya di dalam diriKu. Andaikata dia mengingatiKu di hadapan orang ramai, niscaya Aku akan mengingatinya di hadapan orang ramai yang lebih baik dari kumpulannya. Andaikata dia mendekatiKu sejengkal, niscaya Aku akan mendekatinya sehasta.”

Saat kita melakukan ketaatan sebenarnya kita sedang mempersiapkan kebahagiaan (Aa’ Gym)

Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu. Jangan mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang di hatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuh di hatimu.

Cinta adalah jika kamu kehilangan rasa, gairah, romantika dan masih tetap perduli padanya.

Cinta adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum sambil berkata , ” Aku turut berbahagia untukmu “

Mungkin Alloh SWT menginginkan kita bertemu dengan beberapa orang yang belum tepat sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia itu.

Aku pernah berfikir, bahwa setiap manusia pasti ingin memiliki seorang kekasih. Kekasih yang akan terus bersamanya, sehidup semati, dalam suka maupun duka tak akan terpisahkan. Sekarang, aku memilih amal sholeh sebagai kekasihku. Karena ternyata hanya amal sholeh-lah yang akan terus menemaniku, bersamaku, bahkan menemaniku dalam kuburku, kemudian amal sholehku pula lah yang menemaniku menghadap Allah.

Kesusahan dan kemudahan yang menjauhkan kita dari Allah adalah musibah bagi kita, dan segala sesuatu yang bisa mendekatkan kita kepada Allah adalah nikmat. (Aa’ Gym)

Tatkala ujian kesusahan membuat kita bermaksiat kepada Allah, maka ujian itu menjadi musibah karena kita gagal dan salah menyikapinya (Aa’ Gym)

Tidak ada masalah dengan masalah, yang menjadi masalah adalah cara kita yang salah dalam menyikapi masalah. .(Aa’ Gym)

Bagi orang yang sudah mengenal Allah dengan baik, maka ia akan yakin bahwa segala hal yang menimpa dirinya adalah bagian dari nikmat yang Allah berikan. .(Aa’ Gym)

Siapapun yang merindukan hatinya bercahaya,hendaknya ia berjuang untuk merubah diri, merubah sikap hidup, dan menjadi orang yang tidak cinta dunia

Jagalah jarak tertentu terhadap siapapun yang engkau cintai. Sebab kita tidak akan selalu bersamanya setiap saat. Takdir mungkin memisahkan kita dengan orang-orang yang kita cintai setiap saat. Tapi perjalanan menuju kepahlawanan tidak boleh berhenti (Anis Matta)

Bersyukurlah kalian yang Diingatkan Allah dengan perpisahan yang tidak pernah kalian harapkan itu, namun disitulah bukti Cinta dari Allah yang tidak menginginkan kalian terbakar oleh neraka yang kalian lahirkan dari perbuatan kalian yang sia-sia…

Kalau anda bersandar pada tiang, lalu tiangnya ambruk, maka andapun ikut ambruk, itulah gambaran bersandar pada selain Allah, pada orang tua, harta, jabatan, popularitas dsb. Karena itu bersandarlah pada yang tidak bersandar pada siapa & apapun, yang tidak pernah mati, tidak pernah tidur, penguasa langit bumi. Rasulpun brsabda “siapa yang membaca la hawalla wala quwwata illa billah dengan yakin maka ALLAH pasti menolongnya” SubhanAllah (Ust. Arifin Ilham)

Bila Allah Swt cepat mengabulkan do’amu maka Allah menyayangimu, bila Allah lambat mengabulkan do’amu maka Allah ingin menguji kasih sayangmu terhadap-Nya, bila Allah tidak mengabulkan do’amu, percaya dan yakinlah bahwa Allah swt telah merancang sesuatu yang terbaik untuk hamba-Nya

***

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurât [49]: 13)

Hidup itu pilihan, jadi berusaha bijaksana dalam memilih itu penting.

Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar. (Khalifah ‘Umar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s